BKSDA Sumut Gelar Promosi Wisata Mangrove dengan Jurnalis di SM Karang Gading

topmetro.news, Langkat – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Utara, menggandeng jurnalis dari beberapa media menggelar kegiatan Wisata Mangrove di Kawasan Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading, Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat, Selasa (29/9/2026).

Kegiatan telusur wisata mangrove ini dimaksudkan untuk mengetahui dan memantau perkembangan usaha kelompok tani binaan, pelaksanaan konservasi, serta terkait endemik flora dan fauna, jenis hewan dan unggas yang jadi ikonik di wilayah konservasi tersebut.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Balai Besar KSDA Sumut Novita Kusuma Wardani SHut MAP MEnv, Kepala Seksi KSDA Wilayah 2 Stabat, staf BKSDA di antaranya Guntur Siregar SH, Rezki Indah Siregar SP MSi, Parulian Situmorang SHut, Nofri Yeni SP, Parlindungan Sinaga SKom, Jaka Hendra S Simanjuntak SKom, Wrisanti Monica Zeusica Sihombing, Ketua Kelompok Tani (KTH) Mangrove Sejahtera beserta pengurus serta anggota, juga para jurnalis dari media cetak, elektronik dan online.

Baik Kepala Balai Besar KSDA, maupun Aliandi menjelaskan, kegiatan ekowisata khususnya wisata kehidupan liar (Wildlife Tourism) di SM Karang Gading Langkat Timur Laut ini sudah mulai mendapat perhatian dari para turis mancanegara.

Kelompok Tani Hutan (KTH) Mangrove Sejahtera yang diketuai M Aliandi Saputra mulai mengelolanya dengan serius di akhir tahun 2024.

Padahal, Aliandi mengaku jika dulu dia merupakan salah seorang pelaku yang sering menebang mangrove untuk dijadikan arang. Tapi sekarang, Aliandi malah berubah menjadi penjaga, pelindung, dan rajin membudidaya mangrove.

“Dulu, saya bersama beberapa warga tanpa menyadari turut andil merusak mangrove, dan menjadikan batang pohon ini sebagai arang. Sehingga merusak habitat hewan laut, dan berdampak terhadap kelangsungan rantai kehidupan semua flora dan fauna endemik di kawasan mangrove,” kenangnya saat rombongan berada di kawasan mangrove dan cemara, di seberang Desa Jaring Halus.

Akhirnya ia sadar, jika tidak ada mangrove, kelangsungan hidup dirinya dan masyarakat pesisir, semakin terancam.

Padahal, katanya, untuk menjaga ekosistem mangrove, tidak ada cerita modal besar. Hanya sampan, senter, dan keberanian serta tekad warga masyarakat setempat untuk menjaga hutannya sendiri.

Saat rombongan mulai meninggalkan dermaga Pematang Buluh, dengan pengeras suara menyampaikan lokasi-lokasi dimana terdapat beberapa habitat hewan dan reptil yang ditemukan oleh Aliandi. Dalam satu kawasan mangrove, terdapat sebuah bentangan hutan magrove sebagai habitat ribuan Kunang-kunang yang setiap malam terlihat berkelap kelip seperti pohon natal.

“Pemandangan yang bagi warga Pematang Buluh sudah biasa dilihat tiap malam, ternyata jadi sesuatu yang mahal bagi para turis mancanegara, bahkan wisatawan lokal yang hobi melakukan sisir wisata mangrove malam hari. Apalagi, serangga jenis Kunang Kunang ini, bisa di beberapa wilayah pedesaan di Indonesia, sudah lama menghilang. Hal ini karena habitat ‘hewan berlampu’ ini, sudah beralihfungsi,” ujar Aliandi.

Sementara itu, Kepala Balai Besar KSDA Novita Kusa Wardani mengatakan, hingga Agustus 2026, KTH Mangrove Sejahtera mencatat sudah ada 76 wisatawan mancanegara yang masuk. Mereka berasal dari Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Prancis, Inggris, Spanyol, Swiss, Jerman, Belanda, dan Kroasia.

“Ada yang datang untuk herping, bird watching, susur sungai, melihat sunrise, camping, sampai belajar pembibitan dan ikut menanam mangrove,” katanya.

Dijelaskannya, kedatangan wisatawan mancanegara ini sangat berdampak signifikan terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang disetorkan BKSDA ke negara.

Dalam kesempatan itu, baik Novita dan Aliandi menjelaskan, dari seringnya berkomunikasi dengan para turis atau wisatawan asing, KTH banyak belajar. Kelompok ini semakin memahami karakteristik habitat reptil dan hewan lainnya. Bahkan tidak semua tamu mancanegara diperlakukan dengan pola yang sama saat melakukan telusur sungai.

Dampaknya pelan-pelan dirasakan warga setempat. Bahkan, KTH saat ini merangkul nelayan agar bisa turut terlibat mendapatkan penghasilan dari keberadaan KTH. “Sampan nelayan kini ada yang disewa untuk mengantar tamu wisatawan. Beberapa warga menjadi pemandu lokal, bahkan tak jarang ibu-ibu juga kebagian rezeki menyiapkan makanan,” terangnya.

Awalnya, proses berjalannya ekowisata ini bisa terbuka luas, karena adanya pertemuan yang difasilitasi oleh Bobi Nopandry selaku Kepala Seksi KSDA Wilayah 2 Stabat dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara, yang mempertemukan KTH Mangrove Sejahtera dengan Bobi Handoko dari SUMECO Bukit Lawang yang memiliki jaringan wisata konservasi internasional.

Bagi Aliandi, ekowisata bukan sekadar membawa orang masuk ke hutan. Dari pertanyaan-pertanyaan wisatawan, justru warga jadi terus belajar tentang satwa, tentang mangrove, dan tentang bagaimana semua saling terhubung.

SM Karang Gading Langkat Timur Laut akhirnya dikenal sebagai lokasi ekowisata mamgrove karena kehidupan alam liar yang memang masih ada di dalamnya.

Aliandi menjelaskan, terdapat beberapa jenis hewan dan reptil di kawasan mangrove SM Karang Gading Langkat. Diantaranya ; Tuntung Laut (Batagur borneoensis) spesies kura-kura air langka yang menjadi ikon konservasi utama di kawasan ini. Kemudian Byuku (Orlitia borneoensis) sejenis kura-kura air tawar besar, Ular Sanca (Python reticulatus) dan Ular Belang (Boiga dendrophila), Ular Piton/Sanca serta berbagai jenis ular air dan ular dari marga Trimeresurus sp, Biawak (Varanus salvator), Buaya yang ditemukan di beberapa titik perairan dalam hutan mangrove.

Selain itu, ada pun jenis hewan mamalia dan satwa Lainnya, yakni Lutung Kelabu (Presbytis cristatus), Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Babi Hutan (Sus vittatus), Kelelawar Raksasa (Pteropus sp) dan berbagai jenis burung air serta endemik seperti Bangau Tuntung dan Bangau Luok.

Ancaman Ekosistem

Tidak bisa dipungkiri, keberadaan perkebunan kelapa sawit yang berdekatan dengan daerah aliran sungai, serta pengerukan serta eksplorasi dan eksploitasi galian C di hulu sungai yang ada di wilayah Kabupaten Langkat, dapat mempengaruhi perubahan salinitas (kadar garam) pada air.

Pada umumnya, aliran sungai pasang surut yang mendekati muara laut, biasanya air sungai terasa payau. Namun, saat ini kondisi air sungai Batang Buluh yang menjadi muara aliran sungai di wilayah Langkat dan Binjai, telah berubah. Air terasa tawar, dan banyak mengandung lumpur. Bukan hanya itu, akibat lumpur yang dihasilkan dari kegiatan penanaman sawit dan pengerukan eksplorasi galian C, serta abrasi, menjadi penyebab terjadinya pendangkalan.

Dampaknya, di sekitar habitat mangrove kini banyak ditumbuhi rumput liar yang biasanya terdapat di pinggiran sungai air tawar, dan tumbuhan enceng gondok.

Perubahan salinitas pada air sungai Batang Buluh Kecamatan Secanggang yang hanya sekitar 15 kilo meter terhubung ke laut lepas, terjadi perubahan gangguan endapan lumpur yang signifikan.

reporter | Rudy Hartono

Related posts

Leave a Comment